Sebut saja jalan
Istiqlal di Istanbul, Turki. Di Ho Chi Minh, Vietnam ada distrik 1 Pham Ngu
Lau. Di Marakes, Maroko ada Djemaa el Fna. Di Yogyakarta ada Malioboro dan Bali
juga ada Kuta. Di Beijing, Tiongkok, kawasan ramai turis adalah kawasan Qianmen
atau bisa juga disebut Hutong.
Di sini, apa saja tersedia. Mulai restoran mahal sampai yang
murah kelas backpacker. Bar ala barat sampai kedai minum ala
lokal. Penginapan juga menawarkan beragam harga. Berbagai suvenir mulai yang
murah sampai kain sutra mahal yang asli buatan Tiongkok, termasuk gerai sekelas
Zara dan H&M. Mulai matahari terbit sampai bintang kerlip di langit,
kawasan ini tidak pernah sepi dari manusia, mulai pendatang, warga Beijing,
termasuk para turis asing.
Kawasan Qianmen biasa juga disebut Hutong. Kata Hutong adalah
bahasa Tiongkok yang bisa diartikan jalanan gang kecil atau lingkungan
tradisional Tiongkok. Makanya biasa juga disebut Qianmen walking street atau
kawasan pedestrian Qianmen. Ya, karena jalanan di kawasan Qianmen banyak khusus
pejalan kaki. Sepeda pun dilarang masuk apalagi kendaraan bermotor.
Dari literatur yang ada, Qianmen adalah kawasan kota tua di kota
sibuk dan modern Beijing, Tiongkok. Kawasan ini terletak berdampingan dengan
Lapangan Tiananmen dan Forbidden City atau Kota Terlarang. Sejarah kawasan ini
dimulai sekitar 570 tahun silam. Awalnya bernama jalan Zhengyangmen pada
zaman dinasti Ming dan Qing. Sampai saat ini pun, bangunan Archery tower atau Menara
Jianlou masih berdiri kokoh sebagai lambang kawasan Qianmen.
Kawasan kota tua ini mulai diperbarui sejak tahun 1965. Baru
mulai penyelenggaraan pesta Olimpiade tahun 2008, Qianmen berubah wajah menjadi
kawasan turistik. Saat KompasTravelmelakukan
perjalanan ke kawasan Qianmen, atmosfer-nya masih kuat dengan aroma khas
Tiongkok, terutama karakter bangunan-bangunan yang tidak meninggalkan khas
timur ala Tiongkok. Misalnya saja, kafe Starbuck yang biasa kental aura barat,
di sini suasananya tetap kental aroma Tiongkok. Ruangan, kursi dan meja
ditata apik ala Tiongkok.
Para turis asing juga dimanjakan berbagai kemudahan fasilitas,
sarana, dan prasarana pariwisata. Sebut saja transportasi umum, kita bisa
menggunakan Metro atau Subway di Line 2 dan berhenti di stasiun Qianmen. Dari
sini cukup berjalan kaki ke lapangan Tiananmen dan lanjut ke Forbidden City
atau Kota Terlarang.
Di kawasan Qianmen segala makanan ala barat macam McDonnald,
Hagen Daaz, sampai Starbuck juga tersedia. Bila ingin mencicipi makanan khas
lokal seperti roast duck atau bebek panggang, mi atau noodle,
termasuk restoran Muslim banyak pilihannya. Jika ingin melakukan perjalanan,
para turis mudah menemukan beberapa agen perjalanan yang staf-nya bisa
berbahasa Inggris.
Kehidupan malam di Qianmen tak pernah sepi. Jumat dan Sabtu
malam kawasan ini akan sangat ramai oleh orang-orang berlalu-lalang, mulai anak
-anak muda maupun keluarga. Tak perlu khawatir soal kantung yang tipis. Cukup
kita lihat-lihat atau istilahnya cuci mata saja juga bisa menjadi hiburan
tersendiri. Cuma bermodalkan kaki saja untuk jalan keliling Qianmen.
Bila mencari yang murah, cari saja restoran di gang-gang yang
bisa menawarkan makanan mulai harga sekitar 15 Yen atau sekitar Rp 30.000 untuk
menu nasi goreng atau mi kuah. Untuk kue tradisional bisa dimulai harga sekitar
5 Yen atau sekitar Rp 10.000.
Bila mau merasakan jantung kota Beijing, Qianmen adalah kawasan
yang tak boleh terlewatkan. Di sini lah wajah kota tua yang kaya akan sejarah
bertemu dengan modernisasi di Negara Tirai Bambu.

No comments:
Post a Comment